Jumat, 25 Februari 2011

Reflection PART 3: JOGLO SEMAR (Jogja, Solo, dan Semarang) 3 days and 1 night

Esok hari, tanggal 26 bulan 12 tahun 2010, di subuh hari kita pun bangun untuk kemudian sholat subuh dan mandi, dilanjutkan dengan membereskan barang-barang bawaan karena kami akan segera berangkat ke kota Solo.

 

Sesudah semuanya beres, dan diperkirakan tidak ada barang yang ketinggalan, kami pun segera berpamitan kepada pengelola penginapan untuk segera check out. Namun, sebelum pulang kami hendak sarapan dahulu di Kawasan Simpang Lima, karena perjalanan yang akan kami tempuh sampai di Solo nanti adalah sekitar 3 jam.

 

Kemudian berjalanlah kami ke Kawasan Simpang Lima. Karena mungkin kebetulan hari tersebut adalah hari libur alias hari minggu, sehingga banyak sekali orang yang berjalan-jalan maupun berolahraga di Kawasan Simpang Lima tersebut. Banyak pula yang berjualan disana, kami pun memilih-milih kira-kira pedagang mana yang bisa membuat perut kami ini kenyang sampai siang nanti. Akhirnya tertujulah kami pada warung gudeg, kami pun belilah gudeg itu beserta ayam gorengnya. Maka, kami pun makan dengan lahapnya ditemani dengan es teh manis. Setau saya kalau makan di warteg seperti di daerah Jateng Jatim ataupun Jogja pastilah murah harganya, maka dengan gaya sok tau nya saya, saya pun menanyakan harga yang harus saya makan,

 

Saya: bu berapa semuanya?

Ibu penjual: lima enam

Saya: (berpikir)( jiaaaa murah banget cuma lima ribu enam ratus berdua pula, sama ayam pula) Ini bu uangnya (sambil ngasih uang sepuluh ribu)

Ibu penjual: (cengok) lima puluh enam ribu dek

Saya: (terperanjat) ah masa sih bu, emang berapa nasi gudeg plus ayam (masih shocked)

Ibu penjual: dua puluh lima ribu, es teh nya tiga ribu

Saya: oh gitu ya bu, coba liat bon nya (masih belum percaya juga)

Ibu penjual: silahkan

Saya: (setelah melihat dan ngasih uang dengan setengah ga ridho) oh iya ini bu uangnya (sambil nambahin uang lima puluh ribu rupiah)

Ibu penjual: ini dek kembalinya empat ribu

Saya: iya bu makasih (masih gendok)

 

Weleh weleh udah ke dua kali ini saya backpackeran sarapannya mahal semua, yang pertama waktu pulang subuh-subuh dari Karimun Jawa, saya dan teman-teman sarapan di Mc D sampe abis dua puluh ribu, yang ini sih udah ketahuan pasti mahal jadi saya ga shocked duluan. Nah, yang kedua yang ini, sarapan di Simpang Lima, nasi gudeg sih nasi gudeg tapi mahal gitu. Selidik punya selidik ternyata itu ayam yang saya makan ayam kampung, huhhh panteslah mahal, dikira ayam negeri, kan murah itu mah. Huhhh tau gitu tadi temen nasinya pake telor saja deh J ga bakal nyampe sepuluh ribu kayaknya hihihihi. Yasudahlah masa mau dikeluarin lagi hihihihi  muntah dong.

 

Beres makan, kembalilah kami untuk meneruskan perjalanan. Dari Simpang Lima kami meneruskan perjalanan dengan naik angkot orange ke arah Dr. Cipto untuk naik bis ke arah Solo dengan ongkos Rp.2500. Kami pun sampai lah di daerah Dr. Cipto, dan untunglah kami langsung mendapatkan bis ke arah Solo. Naiklah kami, dan membayar ongkos seharga Rp. 20.000. Karena lama perjalanan sampai 3 jam, teman saya Meli sampai tertidur di bis, nah saya waktu itu tidak terlalu ngantuk, sehingga bisa melihat arah jalan dari Semarang sampai Solo.

 

Ketika memasuki daerah Solo, kami masih bingung mau turun di terminal atau dimana, karena kita hendak ke arah stasiun untuk melihat jadwal, harga tiket, dan juga kalau bisa membeli tiket saat itu juga untuk tujuan ke Jogja dan Bandung untuk esok hari. Selain itu, kami juga hendak meneruskan perjalanan ke pusat kota Solo yaitu jalan Slamet Riyadi. Akhirnya kita memutuskan untuk turun di pertigaan setelah melihat papan jalan kalau arah terminal Solo masih besok kiri lagi (perkiraan saya sih masih lumayan jauh), dan jika hendak ke Slamet Riyadi tinggal lurus, dan ketika melihat jalan pun itu sudah mulai memasuki jalan Slamet Riyadi.

 

Akhirnya kita pun turun di pertigaan itu dan dengan gaya sok tau lagi kita langsung naik angkot kuning, minta diturunin di Stasiun. Dan sampailah kita pun di stasiun. Saya kira, kita diturunin di Stasiun Solo Balapan, eh ternyata bukan kita diturunin di Stasiun Purwosari. Selidik punya selidik ternyata Stasiun Solo Balapan masih jauh lagi, kalau yang deket daerah Slamet Riyadi ya Stasiun Purwosari ini.

 

Sesampainya di Stasiun Purwosari, kita pun melihat jadwal kereta untuk ke Yogyakarta untuk esok hari. Tadinya mau membeli tiket hari itu juga biar besok kita ga usah beli lagi. Eh ternyata ga bisa, harus langsung besok aja. Oh iya nama kereta yang mau kitatumpangi besok untuk ke Yogyakarta adalah kereta Prameks (Prambanan Express) ongkosnya Rp. 9000.

 

Dari Stasiun Purwosari, kita pun hendak menuju Keraton Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan. Karena di depan Stasiun Purwosari ada halte Trans Batik Solo (semacam busway kalau di Jakarta) yang menuju daerah keraton tersebut, maka kita pun naiklah trans batik solo tersebut dengan ongkos jauh dekat Rp. 3000, hmmm lumayan lah buat jalan-jalan seputaran Solo. Nah, sesuai rute yang dipajang di depan stasiun, kita harus turun di Halte Bank Niaga untuk sampai Keraton ataupun Pasar Klewer.

 

Tak lama setelah itu, saya melihat di sebelah kanan jalan melihat Bank Niaga, hmm mungkin kita harus turun disini pikir saya dengan sok tahu nya, dan supir Batik Solo pun mengiyakan kalau ini halte Bank Niaga. Turunlah kita di halte tersebut. Dan ternyata Keraton bukan disitu tempatnya, masih jauh harus jalan lagi. Hhhh karena kita udah terlanjur turun, kita terusin aja jalan-jalan di daerah sepanjang Slamet Riyadi tersebut. Karena di sebrang kita terlihat ada Museum, maka kita menyebranglah kita memakai jembatan penyebrangan (hahaha muka Meli pucat kalau nyebrang di jembatan penyebrangan, pegangan pegangan mel s^^s)

 

Ternyata nama Museum itu adalah Museum Radya Pustaka Surakarta. Kita pun masuk lah kesana. Masuk museum harus beli tiket dengan membayar Rp. 5000, kalau bawa kamera dan foto-foto di dalam museum harus nambah Rp. 5000 lagi. Kita pun masuklah, didalamnya banyak benda-benda seperti keris, blangkon, patung, maket gedung, wayang-wayangan dll. Setelah puas foto-foto di dalam Museum, keluarlah kita, dan kita akan melanjutkan lagi perjalanan ke Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan. Kata mbak-mbak penjaga tiket itu sih kalau mau ke daerah Keraton tinggal jalan saja sampai melewati dua lampu stopan dari Museum, kalau mau pakai Batik Solo juga bisa. Tapi supaya kita bisa merasakan hawa kota Solo, kita memutuskan untuk jalan kaki saja.

 

Berjalanlah kita menuju tempat yang dituju, mana gerimis pula, walhasil berpayung ria lah kita. Nah, ketika di tiba daerah sekitar Keraton Mangkunegaran, ternyata sudah waktunya sholat dhuhur, akhirnya kita mencari mesjid terlebih dahulu di daerah sana. Setelah sampai mesjid, eh ternyata mesjid itu milik organisasi Muhammadiyah, dinamai Mesjid Balai Besar Muhammadiyah. Wah saya senang sekali kalau sedang bepergian terus bertemu dengan organisasi yang telah ikut andil mendidik saya sejak kecil ini. Dan tentunya saya berfoto di depan mesjid ini, untuk diperlihatkan kepada bapak saya (secara bapak saya Muhammadiyah banget).

 

Dari sana kita meneruskan perjalanan ke Musem Mangkunegaran, tapi sebelumnya kita janjian dulu sama teman Meli di deket Museum itu yang nantinya mau menampung kita selama di kota Solo ini. Sambil menunggu Intan, kita foto-foto lagidi deket lukisan-lukisan yang besar yang ditempel di sepanjang jalan deket Museum Mangkunegaran itu. Ada lukisannya Gesang sang maestro Bengawan Solo itu, ada gambar siapa lagi yak lupa uy.

Akhirnya Intan pun datang juga, kita pun bergegaslah ke Museum Mangkunegaran, namun sayang Museum itu udah tutup apa memang ga buka ya. Ga tau juga sih. Akhirnya kita cuman moto gerbangnya aja deh. Nah, karena masih cape akibat bawa-bawa gembolan super besar mana jalan pula ditambah udara yang panas, akhirnya kita istirahat dulu di deket Museum, sambil beli es tape (ini kali namanya). Hmmm enakk karena kita emang kehausan.

 

Beres makan es, kita berjalan lagi ke arah pasar klewer. Kita melewati city walk, kauman, dll. Wah di Semarang, Solo, dan Yogya kompak yah ada nama Kampung Kauman-nya. Bedanya kalo Kauman di Semarang didominasi oleh orang-orang arab turunan, trus berjejeran percetakan dan toko-toko buku agama, kalo di Solo Kampung Kauman-nya didominasi oleh produsen batik solo, disamping juga sepertinya banyak dihuni oleh warga NU, karena saya lihat disana ada perguruan NU. Dan kalau di Yogya, Kampung Kaumannya didominasi pedagang dagadu, batik, dan umumnya di huni oleh warga Muhammadiyah. Kalo persamaannya sih sama-sama Kampung Islam kayaknya (mudah2an bener analisis saya hehehe).

 

Akhirnya kita pun sampai juga di pasar klewer. Apa lagi yang dikerjakan disana kalau bukan belanja oleh-oleh. Duhh kalau ga inget yang dirumah, saya dak bakalan beli oleh-oleh habis namanya jugakan backpackeran, ga boleh banyak belanja-belanja, harus hemat. Akhirnya dengan berat hati, saya pun membeli lah kaos-kaos Solo itu, 5 biji saja.

 

Dari pasar klewer, kita jalan kaki lagi menuju Masjid Agung Surakarta (Solo). Mengantar Intan yang belum sholat Ashar, karena kita sudah menjamak-qasar sholat Ashar, maka kita nunggu di beranda mesjid nya saja. Hmm saya kasih tahu yah, ternyata kebiasaan antar orang Sunda dan Jawa itu beda yah, hehehe, ya iya lah beda. Duh malu nya saya, kan biasanya kalau saya lagi di dataran Sunda, kalau kita sedang tidak shalat, kita sah sah saja duduk di dekat orang-orang yang sedang sholat (maksudnya dibelakangnya) sepanjang kita tidak mengganggu mereka. Nah pas saya dan Meli nungguin Intan yang sedang Sholat itu, masa saya dan meli yang sedang duduk di beranda Mesjid pun, yang sebenarnya jauh banget jaraknya dari orang-orang yang sedang sholat di suruh minggir dahulu. Waduh gubrak deh, akhirnya kita pun meminggirlah, ke pinggiran (banget) beranda mesjidnya hehehe.

 

Dari Mesjid Agung Surakarta, kita makan wedang ronde dulu di depan mesjid agung, lesehan. Dari sana kita meneruskan perjalanan ke alun-alun utara, wedeh kotor booo banyak sampah disana. Lalu kita lanjut deh ke Museum Kasunanan, namun sayang sekali pas kita kesana itu Museum mau tutup, jadi kita cuma foto-foto depan Museum aja, ga sampe kedalem, hmm gak apa-apa yang penting udah pernah kesini. Keluar dari Museum Kasunanan, kita makan lagi, es plengeh namanya, tempatnya deket Museum kok. hmmm mirip-mirip es campur kalau di kita es plengeh ini, tapi ini lebih banyak macemnya, udah mah banyak, murah pula harganya, Rp. 3000,-. Slurpppppppp nikmatttt.

 

Beres es plengeh, kita jalan lagi, ke arah alun-alun selatan, nah disini banyak yang jualan, kita mampir lagi deh beli sate bakso. Murah lagi Cuma Rp. 1000/tusuk, tapi pedessss banget deh. Dipikir-pikir kita belom makan dari siang makanya ngemil beli jajanan mulu dari tadi, gendut, gendut deh.

 

Hari pun sudah beranjak maghrib, akhirnya pulanglah kita, capekkk badan pegel, muka udah karuan pokoknya. Kita pulang ke tempat Intan. Sebenarnya Intan tidak kos, tapi di asrama mahasiswa. Enak banget deh tempatnya, banyak temen satu kamarnya. Nah asrama itu terletak di atas rumahnya Rektor UMS (Universitas Muhammadiyah Solo), It’s mean saya dan Meli nginep di rumah rektornya UMS. Wahhh begitu tau mau nginep di rumah rektor, kita malu uy, tapi gapapa kok, waktu kita nyampe ke rumah rektor itu, dan Intan bilang mau ada temennya yang ikut nginep, pak Rektornya sendiri yang langsung nyamperin, boleh nginep kok, hehehe (ya iya lah masa ga boleh, udah maghrib gini hihihi). Makasih pak dan ibu rektor UMS yang baik kapan-kapan kalau ke Subang boleh kok nginep di saya.

 

Karena saya dan Meli nginepnya di asrama, maka mau tak mau harus mengikuti kegiatan di asrama tersebut. Setelah sholat maghrib berjamaah, diteruskan tadarus bersama-sama, wah saya dan Meli pun kebagian disuruh ngaji, untung bisa, coba kalau enggak, memalukan hehehe.

 

Sudah malam, orang-orang ada yang nonton bola, TIMNAS Indonesia yang sedang melawan Malaysia di Bukit Jalil, yang akhirnya 3-1 untuk Malaysia, huh kok bisa kalah yah. Saya sih tidur aja ah, cuz besok harus ke Yogyakarta pake ker.eta pagi dari Purwosari. Krik krikkkk, G’night. (to be continue ‘bout story @Yogya yaaaa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar