Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2013

INI BROMO, KAWAN!!

(Bromo-Taking Picture from Pananjakan 1)
   
Perjalanan kali ini sungguh luar biasa, bagaimana tidak, saya bersama sahabat-sahabat saya semenjak SMP bisa melakukan perjalanan ke Malang Jawa Timur, tepatnya ke Bromo. Total kami yang ikut ke Bromo adalah 10 orang. Tidak ada persiapan yang matang apalagi itenerary yang jelas untuk kita bisa sampai ke Bromo, yang penting tiket PP Bandung-Malang sudah di tangan sejak jauh-jauh hari,  sehingga apapun yang nanti terjadi maka terjadilah. Bagi saya, perjalanan tanpa itinerary yang detail akan terasa sekali nuansa petualangannya, itu lah yang saya harapkan dalam trip Bromo kali ini. 
Perjalanan kami kali ini saya rasa seperti perjalanan dalam film 5 cm (hahahaha lebayy), cuma bedanya kalau di film 5 cm, settingnya adalah Gunung Semeru, sedangkan dalam perjalanan kami adalah Gunung Bromo (Ciyeee situ oke?). Oh ya, kami adalah sekelompok sahabat yang sama-sama mempunyai aktivitas masing-masing yang berbeda-beda, sehingga kami jarang bertemu secara fisik, namun kami masih bisa bertemu secara maya di majlis whatsapp :D

Hari Pertama
Kereta yang kami naiki adalah kereta Malabar jurusan Bandung-Malang, yang berangkat tepat pukul 15.30. Kami yang berangkat dari Bandung totalnya ada 7 orang (awalnya 6 orang), entah kenapa Iyang (nama cadel dari Dian) yang asalnya tidak akan ikut trip Bromo ini menjadi berubah pikiran untuk ikut trip ini, saya jadi curiga jangan-jangan dia menyimpan pesawat UFO di Pasir Berbisik di gunung Bromo sana, karena dia sebenarnya adalah makhluk luar angkasa #eh :). Walhasil tempat duduk Iyang dan kita-kita yang sudah pesan tiket duluan jadi terpisah.

Dari kami ber-7 orang ini, yang sedang tinggal di Bandung ya cuma saya dan Iyang saja. Teman-teman yang lain sengaja datang dari Jakarta, Bogor dan Purwakarta hanya sekedar untuk berangkat sama-sama dari Bandung. Ya ampuunn terharu deh saya sampai mereka bela-belain gitu. Sanna dari Bogor membawa roti unyil berdus-dus, Uwi orang Purwakarta membawa satu tas makanan, mas Uut dari Jakarta membawa banyak makanan yang disiapin ibunya, Elin dan Anne dari Jakarta juga ga mau ketinggalan untuk membawa makanan satu keresek penuh, mantap lah perjalanan kali ini ga akan kelaparan. Mungkin cuma saya aja kali yang ga bawa apa-apa, hahaha maklum anak kos cuma bawa do’a aja. hihihi. Oh iya Iyang juga bawa terigu sekarung sama telur ayam sekeresek (mau bikin roti ceritanya), soalnya dia kan pengusaha sembako yang udah senior (hehe ga deng bercanda, yang pasti dia cuma bawa harga diri aja haha). Oh iya, sahabat saya yang lain -Abi- berangkat ke Malang via Surabaya. Dulu waktu saya booking tiket kereta api, si Abi khawatir ga boleh cuti lebih awal sama bos-nya, jadi agar bisa sampai ke Malang dengan waktu bersamaan, dia pakai pesawat dulu ke Surabaya kemudian lanjut ke Malang memakai bis. Sedang kan Ucup orang Bandung yang terdampar di kota Gudeg, dia berangkat dari Yogyakarta bersama seorang teman kampusnya, Elsa. Jadi total kita adalah 10 orang, termasuk Elsa yang berasal dari Medan temannya Ucup alias Jose.

Total perjalanan kereta api Bandung-Malang adalah sekitar 15 jam perjalanan. Bayangkan kalau kita berangkat cuma sendiri atau berdua, makin berasa lama lah perjalanan dalam kereta itu. Beruntunglah perjalanan kali ini dilakukan bersama sahabat yang asyik-asyik, ga neko-neko, tahu sifat luar dalamnya, dan yang terpenting adalah kebersamaan dan saling menjaga satu sama lain. Di dalam kereta banyak banget yang kita lakukan, mulai dari nyeritain hal-hal yang penting sampai hal-hal yang gak penting, dengerin musik, jailin teman yang tidurnya mangap, ngemil, foto-foto, berisikin orang-orang segerbong, ampun deh maaf pemirsah. Oh ya, dan tidak lupa walaupun di kereta api tidak ada mushalla, kami masih bisa sholat kok sambil duduk, caranya tayamum dulu di kursi kemudian sholat deh di kereta sambil duduk. Gampang kan? :D

Hari kedua
Esok harinya sekitar pukul 08.00 pagi sampailah kita di stasiun kota Malang. Nah sebelum berangkat ke Bromo saya bersama sahabat-sahabat saya itu mau mengunjungi kawan lama kita yang baru saja pindah ke Malang sekitar 1 bulan yang lalu dari kota Bandung tercinta, mereka adalah pasangan Ison dan Acid berikut de’Al anaknya, alhamdulillah mereka bersedia rumahnya untuk kita recokin selama transit di Malang. Terimakasih soooo much kucriittt :). Di rumah Ison-Acit, kita semua numpang mandi, minta anterin ke pusat oleh-oleh, makan, tidur-tiduran sebentar sementara para bujangers pada sholat jum’at. Kalau dipikir-pikir kita yang dateng ke rumah Ison-Acid ngelunjak banget dah ngerepotinnya hahaha duhh udah biasa mereka mah kita recokin, dulu juga pernah waktu buka bersama di rumah Ison-Acid yang di Bandung kita recokin juga, untung mereka mah baik-baik dehh ga laporin kita ke pak RT :).

Siangnya  sekitar jam setengah 2 an kita semua pun siap-siap untuk berangkat ke Bromo. Eitss tunggu dulu, sebelum naik ke Bromo kita jajal dulu baso President yang udah terkenal sealam dunia ini. Sluuurpppp enyakkkk banget deh baksonya, ada bakso yang dibakar juga tapi saya ga pesen soalnya takut lama nunggunya secara ya ngantri banget. Oh ya yang membuat unik kalau menurut saya adalah letak bakso President itu sendiri yang berada persis di pinggir rel kereta api. Uwooowww kebayang doong kalau lagi di bakso President terus ada kereta api lewat, pasti kita makannya goyang-goyang, hehe, dan perlu dijaga buat para orang tua yang bawa anak kecil, soalnya ga ada penghalang rel kereta api, jadi bebas banget orang kalau mau bolak-balik rel kereta api.

Beres makan bakso, akhirnya kita pun pamitan sama Ison-Acit dan de’Al. Kita kemudian berangkat ke Bromo lewat Ngadas, bukan lewat Probolinggo yang biasanya kebanyakan wisatawan lewat kesana. Oh ya, kita ke Ngadas memakai angkot karena ini adalah sarannya Pak Mul yang menyuruh kita memakai angkot ke rumahnya yang ada di Ngadas sana. Pak Mul adalah bapak yang menawarkan jasa hardtop dan homestay. Dan pergi ke Ngadas memakai angkot adalah pilihan yang amat sangat buruk. Kenapa buruk? Karena jalan ke Ngadas itu berkelok-kelok, naik, terjal ahhh pokoknya ga cocok kalau pakai angkot, cocoknya ya pakai hardtop atau truk sekalian. Tapi senengnya adalah di kanan-kiri banyak pemandangan bagus nan indah. Ampun deh saya sebagai bendahara traveling merasa terbodohi dan terbohongi, bukan dalam masalah uangnya, tapi dibohonginya itu loh bayar banyak tapi gak sampai tempat, jadi aja bayar double. Mungkin mereka tidak bermaksud begitu sih, hanya situasi waktu itu aja kali yang emang ga pas, hehehe mencoba husnudzon. Jadi begini, dari kota Malang ke Ngadas itu seharusnya kalau mau memakai angkot ya sampai  daerah Tumpang saja, kemudian lanjut memakai truk atau hardtop ke Ngadas dan nginap sebentar, kemudian nanti jam 2 dini hari baru naik ke Bromo memakai hardtop lagi. Atau bisa juga sewa angkot sampai ke Tumpang dan nginap disini, kemudian sekitar jam 1 baru naik ke Bromo memakai hardtop. Nah, kemarin itu kita malah sewa angkot sampai ke Ngadas sekitar 250ribu, tapi eh di daerah Coban Trisula si angkot malah mogok, dan itu udah hampir magribh. Hampuunn. Dan akhirnya kita minta dijemput sama pak Mul yang waktu itu sedang ngangkut penumpang juga, mana sinyal nya susah lagi waktu nelpon pak Mul, untung bisa kirim sms juga dan delivered :). Tolong kita ga mau nginep di hutan dengan angkot yang mogok hihi. Akhirnya menjelang magrib kita dijemput pakai hardtop nya pak Mul, tapi sebelum itu kita bayar angkot dulu, masa iya walaupun kita ga nyampe Ngadas pak Sapri (supir angkot) minta ongkos nya keukeuh ongkos ke Ngadas yaitu 250ribu. Padahal perjalanan ke Ngadas masih lumayan jauh lagi kalau ga salah, ckck ongkosnya ga diturunin sedikitpun. Huuhh. Akhirnya, kita semua pun masuklah ke hardtop itu, hahaha umpel-umpelan. Bayangkan hardtop sekecil itu diisi oleh kita bersepuluh plus satu supir dan satu lagi anaknya supir jadi 12 orang di hardtop yang kecil itu. Jadi gini posisinya saya dan uwi yang memiliki body gede di depan barengan pak Mul yang menjadi supir, terus sahabat-sahabat saya yang 8 orang itu umpel-umpel-an di jok belakang yang harusnya muat untuk 4 orang wakakakakak sumpeh pengen ketawa kalau inget kejadian itu. Mana jalannya berliku, kanan-kiri jurang pula, dengan pemandangan yang indah. Oh ya, kalau anaknya pak Mul, dia duduknya di luar mobil, asli ini mah, dia ngegantung di pintu belakang mobil itu, padahal dia masih anak SMP loh, waaw uji nyali banget deh. Setelah kita sampai di rumah pak Mul yang sederhana tersebut, kita akhirnya bisa istirahat sebentar, makan mie rebus, sholat ke mesjid di bawah desa Ngadas, cuci muka, dan kemudian tidur di sofa.


(Adventuring with this hardtop, taken this picture from Pasir Berbisik)

Hari ketiga
Pukul 1 dinihari, bu Mul udah bangunin kita agar kita segera bersiap-siap ke Bromo dengan rute Pananjakan 1, Kawah Bromo, Pasir Berbisik, Dan Bukit Teletubbies. Kita pun cepat-cepat cuci muka,  airnya dingiiiiiinnnnnnnnnn banget, udaranya juga dingin banget berasa di kutub, sampai-sampai gigi saya yang sedang bolong ini bergemeretak dan ngilu saking dinginnya udara sekitar.

Waktu ke kamar mandi saya sih cuma wudhu saja sambil cuci muka, boro-boro kepikiran pengen mandi jam 1 dinihari, entah ya si Abi yang rajin banget kalo urusan bersih-bersih itu, doski mandi apa enggak, kayaknya sih enggak hahaha. Jam 2 dinihari pun kita semua keluar rumah, walaupun saya udah pake 2 swater tetep aja dinginnya kerasa banget.  Di luar rumah sudah ada 2 hardtop yang menunggu kita. Hardtop 1 dengan anggota saya, Uwi, Anne, Iyang, Dan Mas Uut. Hardtop 2 dengan anggota Elin, Echa, Abi, Sanna, Dan Ucup.

Sepanjang perjalanan dari Ngadas ke Pananjakan yang terlihat hanya langit cerah dan lampu hardtop dari mobil lain. Lama perjalanan dari Ngadas ke Pananjakan 1 adalah sekitar 1 jam. Kata pak Mul, kalau cuaca mendung paling bisa hanya ke Pananjakan 2 saja, untung saja hari itu cerah sehingga kita bisa ke Pananjakan 1 lihat matahari terbit. Pokoknya keren banget selama diperjalanan, sampai-sampai saya ga mengira kalau di kanan kiri ada jurang. Hihihi kereeennnn banget lah pokoknya, susah diungkapkan dengan kata-kata nih. Kita melewati savana-savana, bukit-bukit, hiiiiii harus ke Bromo lah pokoknya kalau pengen tahu exicitednya kayak apa hehe. Di perjalanan kita juga melihat orang-orang ada yang naik ke Pananjakan memakai mobil-mobil biasa (bukan untuk adventure ke gunung), ada juga yang pakai motor bebek, untung aja ga ada yang pakai motor matic. Wah saya sih kasihan liat mereka, karena mobil dan motor yang biasa ada di jalan raya ga cocok kalau untuk dipakai ke gunung, bisa-bisa mesin nya rusak, trus kalo slip di jalan gimana, bukannya mau liburan malah nelangsa yang ada. Think smarter okey :) Oh ya, tiket masuk ke Bromo bulan Maret kemarin belum semahal seperti sekarang ini. Saya pikir sih ga usah di mahalin tiket masuk Bromo nya, bisa-bisa para wisatawan enggan datang lagi ke Bromo, terus gimana coba kalo perusahaan travel ke Bromo ga laku lagi, terus gimana nanti nasib para pemilik homestay di Bromo, pemilik sewa jeep/hardtop yang kesehariannya adalah petani, dan mempunyai penghasilan tambahan dari hasil menyewakan hardtop itu. Gimana coba wahai pemerintah daerah? Tolong pikirkan kembali yaa.

Sampai di Pananjakan 1 pak Mul pun memarkirkan hardtop nya, kemudian menyuruh kita turun dan menyuruh kita berjalan ke atas sedikit lagi untuk melihat matahari terbit dari pananjakan 1. Kita semua pun turunlah dan berjalan beriringan naik kesana. Wahhh hari itu yang parkir hardtop banyaakkk banget, wisatawan pun banyak berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Oh ya, sebelum ke pananjakan 1, saya pun beli lah dahulu kupluk yang ada tulisan Bromo nya sebagai kenang-kenangan. Sanna membeli syal Bromo, si Abi kupluk Bromo, trus yang lain saya gak ingat apa ga beli ya mereka hehe. Akhirnya sampai lah kita beberapa menit kemudian di Pananjakan 1, wiihh udah banyak banget orang disana pokoknya kayak yang mau nonton konser aja deh, trus ternyata ada yang sekalian kemping juga rupanya.

Nah, karena matahari belum terlalu terlihat tapi sudah masuk waktu shubuh, akhirnya kita sholat shubuh dulu deh di trotoar pake alas sih, soalnya ga tau sebelah mana musholla nya ntar kita-kita takut nyasar lagi. Beres sholat shubuh kita pun segera mencari tempat PW untuk hunting foto matahari terbit. Yess dan akhirnya saya dapat posisi kurang wuenakk untuk dapetin foto nya, yaitu diantara kaki-kaki orang yang sedang berdiri, tapi better sih dari pada ga ada tempat buat foto sunrise hehe. Akhirnya matahari pun terbit, dan prat pret prat pret kita pun foto-foto. Beres foto matahari terbit, kita pun foto dengan latar belakang Bromo, yang biasanya saya suka lihat gambar Bromo itu di internet-internet. Tapi sekarang saya bisa foto pemandangan Bromo itu dengan jepretan sendiri. 


(Sunrise from Pananjakan 1, Bromo)

Beres dari Pananjakan 1 kita pun segera turun ke parkiran, namun sebelum itu saya beli (eh minta deng) sate kentang dulu, laparrr soalnya. Dari Pananjakan 1 kita semua langsung berangkat lagi ke kawah Bromo. Wih perjuangan untuk mencapai kawah Bromo ini capenya ampun-ampunan deh, tapi itu lah tantangannya. Kita semua ga lewat tangga, kita hanya lewat pinggir tangga aja, karena kalo lewat tangga ngantriii banget, kapan kita sampenya coba. Pokoknya itu orang-orang yang ada di sekitar kawah Bromo kalau kata saya sih udah overpopulasi, udah umpel-umpelan, udah kebanyakan banget orang, sedangkan daya tampung di kawah Bromo itu kecil banget. Ga kebayang deh kalo ada yang jatuh, hii jangan sampai ada korban deh. Nah terusnya setelah nyampe puncak dari tangga tersebut ehh ternyata kawah nya ga sebagus Kawah Putih ataupun kawah Tangkuban Parahu yang ada di Bandung. Kawahnya biasa aja, tapi pemandangan disekelilingnya yang bikin luar biasa banget. 



Kawah Bromo

Gunung-gunung yang tampak jelas menjulang tinggi, kerumunan orang-orang di bawah yang seperti semut, hardtop-hardtop yang di parkir tampak seperti mobil-mobil an, dan lain-lain. Indaahh pokoknya. Oh iya, untuk sampai puncak kawah Bromo itu kalau ga kuat kita bisa menyewa kuda kok, tapi saya ga tahu harganya berapa soalnya fluktiatif hehe. 

(Perjalanan Menuju Pasir Berbisik)
(Perjalanan Menuju Pasir Berbisik)


Beres dari kawah Bromo, kita pun ke pasir berbisik. Disebut pasir berbisik karena dulu ada film Pasir Berbisik yang shootingnya disini, jadi aja keterusan sampai sekarang. Wihhh keren bangetttt Pasir Berbisiknya. Keren keren keren, yang baca blog ini harus kesana pokoknya. Haha.


Pasir Berbisik

Dari pasir berbisik kita langsung meneruskan perjalanan ke Bukit Teletubbies yang ga kalah kerennya hihihi. Bedanya Bukit Teletubbies dengan Pasir Berbisik adalah kalau bukit teletubbies sepanjang mata memandang adalah hamparan rumput dan gunung-gunung, kalau Pasir Berbisik ya pasir pasir semua, tapi kerennnnn. Petualangan di Bromo pun berakhir sampai Bukit Teletubbies, dan akhirnya kita semua kembali ke Ngadas dengan wajah letih tapi puas banget dan kagum akan ciptaanNya. 


(Bukit Teletubbies)

Akhirnya kita pun kembali ke Ngadas, dan saking letihnya saya sampe ketiduran di hardtop selama perjalanan pulang hihi. Sampai rumah pak Mul, kita pun disuguhi makan, ada sayur, tempe, ayam, sambel, dll. Nikmat banget lah pokoknya. Beres makan, kita pun langsung beres-beres hendak pulang ke Bandung mengejar kereta jam setengah empat sore. Nah, pulang menuju kota Malang harus lewat Tumpang dulu. Untuk sampai ke Tumpang harus memakai truk atau hardtop, karena tidak ada hardtop pak Mul (sedang dipakai lagi) maka akhirnya kita sewa truk lagi, seharga 150 ribu, nah dari Tumpang kita pakai angkot pak Sapri lagi (duuh kesel dehh kalo inget kejadian kemarin hihi).

Akhirnya turunlah kita ke Tumpang memakai truk. Bayangkan kita bersepuluh naik truk bekas mengangkut binatang ternak dan sayuran, untung belum mandi jadi ga rugi deh bau lagi juga hihihi. Sepanjang perjalanan dari Ngadas ke Tumpang itu bener-bener seru banget pakai truk itu, ketawa-ketawa, nyanyi-nyanyi, gokil-gokilan, lihat pemandangan yang subhanalloh bagus banget, sampai beberapa menit kemudian gerimis dan lama-lama gerimis itu membesar. Kita ga mau kehujanan dong, akhirnya kita tarik terpal yang ada di bagian depan truk, tapi susah ngembanginnya, dan supir truk masih aja mengendarai truk nya tanpa memedulikan kita yang bentar lagi kehujanan, sampai suatu detik kemudian, teman saya –Elin-- yang lincah dan mempunyai  suara yang unik (baca: melengking) teriak “paaakkkkkk berhentiii, hujaann”. Dan tiba-tiba pak supir langsung mengerem mendadak yang membuat kita semua yang ada di truk hampir terjengkang hahahaha, teriakannya si Elin mantap, sampai membuat kita semua yang ada di truk kaget gitu denger teriakannya terus ketawa terbahak-bahak kalau itu teriakannya Elin saking melengkingnya karena bisa sampai si sopir berhenti mendadak wahahaha.

Akhirnya sampailah kita di Tumpang dan kemudian berganti kendaraan dengan angkot menuju ke Kota Malang untuk transit lagi ke rumah Ison-Acid, mau numpang mandi dan istirahat. Lalu sekitar pukul setengah 3 sore, kita segera pamit ke Ison-Acid dan de’Al untuk pulang kembali ke Bandung memakai kereta. Terimakasih ya Ison-Acid, jasa-jasamu tiada terkira. Sekian deh jalan-jalan bersama sahabat-sahabat saya yang udah lama banget ga ketemu, rasanya seru, asik, happy, menegangkan, dan pengen jalan-jalan bareng lagi. Sebagai bendahara trip Bromo ini, saya memungut uang kepada setiap peserta trip sekitar 200ribu rupiah. Uang segitu sudah lebih dari cukup untuk mengcover akomodasi selama di Bromo. Mulai dari sewa angkot, sewa hardtop/jeep, uang makan, sewa homestay, sewa truk, tiket masuk ke Bromo. Saran saya sih supaya ongkos lebih hemat ya mending berangkatnya banyakan alias grup. Salam travelista

Info tambahan ya, bagi kamu-kamu yang ingin menginap di hotel (bukan homestay) yang berada di sekitar Malang atau Bromo, kamu bisa booking dulu hotel pihan kamu di website Rajakamar. Kenapa raja kamar? Ya karena  harga hotelnya murah-murah dengan istilah lain Rajakamar ini memiliki harga lokal tapi dengan kualitas internasional. Malah pernah ada promo hotel sampai 88rb. Wiih ga salah tuh ada hotel dengan harga hostel, kemarin aja promo hotel 88rb ini udah sampai kedua kalinya diselenggarakan. Waww enak banget kan liburan jadi serasa gratis dengan promo hotel 88rb, malah pernah Rajakamar juga ngasih paket menginap gratis lohh :) okesip selamat jalan-jalan dengan budget terbatas tapi fasilitas yang “wah” ya :).


Another picture at Bromo Mountain:
















Link : http://content.rajakamar.com/dapatkan-voucher-menginap-gratis-di-rajakamar-office-attack/?utm_source=website&utm_medium=blog+competition&utm_campaign=blog+competition+rajakamar



 

Link : http://content.rajakamar.com/segera-promo-88rbu-season-2-di-newsletter-rajakamar/?utm_source=website&utm_medium=blog+competition&utm_campaign=blog+competition+rajakamar  

Selasa, 13 November 2012

Short Trip Backpacking to Ciwidey



 
Alhamdulillah, hari ini dosen saya tidak mengajar euy, tapi besok diganti jadi double ngajarnya, hehehe yo wes lah, soalnya di kampus hari ini mau akreditasi, sibuk kali yakk. Harusnya sih belajar mandiri, minimal cari bahan-bahan gitu lah buat thesis UP saya tapi da pengen mencari kesegaran dulu (haha tepatnya lagi  garalau). Perasaan udah lamaaaaaaaaaaa banget saya ga ngetrip, mau yang jaraknya jauh ataupun dekat, jadi berasa kangen buat ngetrip. Sebenernya pengen dari kemarin-kemarin, tapi ga ada waktu, semuanya terkurasssssss buat ngerjain tugas (okey agak lebay)
Trip dadakan pun dimulai. Saya dan Dieni berangkat dari halte Dipati Ukur (Depan UNPAD DU). Eitss jangan salah naik damri yah, naiknya harus yang Dago-Leuwi Panjang (ekonomi) murah ongkosnya cuma Rp. 2000,- jauh-dekat. Setelah sebelumnya saya dan Dieni makan dulu lontong sayur padang, dekat pangkalan Damri tersebut. Setelah kenyang, kami pun minta si ibu membungkus lagi lontong pical (pecel) padang buat dibawa ke Ciwidey nanti. Haduhhh, lontongnya dimasukin panas-panas ke plastik lagi, walhasil kalo dimakan nanti siang pasti agak basi, pikir saya, biarin aja ah. Intinya titik poinnya adalah ke terminal Leuwi Panjang.

Sekitar 45 menit perjalanan Damri, kami pun tiba lah di Leuwi Panjang. Sebenarnya ada 2 alternatif angkutan ke Ciwidey, yang pertama naik bus, yang kedua naik elf L300. Nah, karena bus ke Ciwidey adanya jam 8 pagi, sedangkan kami sudah tiba di terminal Leuwi Panjang jam setengah delapan, maka kami pun memutuskan untuk naik elf L300. Hahaha ini elf mirip angkutan saya kalau mudik ke kampung, jadi gak berasa aneh lah saya naik nya juga, ga tau kalau orang kota mah hihihi. Cuma bedanya dengan elf ke kampung saya hanya dihuni sekitar 16 penumpang termasuk supir, nah kalo elf L300 yang ini harus berisi 18-20 penumpang. Mau tau dimana sisanya tempat duduk itu?? Yappp sisa penumpang yang naiknya belakangan kebagian tempat duduk di belakang supir. Jadi saling berpunggungan badan sama yang duduk di paling depan, sehingga penumpang yang duduk disitu tidak bisa menghadap ke depan, hanya bisa menghadap ke belakang, ditonton sama 3 baris penumpang lainnya yang menghadap ke depan. Hadeuhhh, masih belum kebayang juga?? nihhh saya lampirkan fotonya (yaak benar sekali saya kebagian duduk membelakangi supir tersebut, lumayan 1,5 jam jadi artis :D :D). 

(nah terlihat kan bagaimana situasinya, untung itu cuma 3 orang yang duduk disitu, pas pulangnya malah ber empat yang duduk disitu, ckckck hahaha panas booo dibawahnya mesin)

Oh ya, ongkos naik elf tersebut Rp.7000,-, tapi si supirnya ngembaliin Rp.5000 (harusnya Rp.6000,-) dari uang yang dikasihkan Rp.20.000,- (untuk 2 orang). Hmm biarin ah shodaqoh hehe. Dari elf itu kami turun di terminal Ciwidey (terminal Cibeureum). Lalu banyak mamang-mamang angkot yang menawarkan jasa angkotnya, “neng, neng, Kawah Putih?”, “bukan, orang saya mah mang”. Orang Ciwidey bilang, kalo mau ke Kawah Putih, atau daerah atasnya seperti Situ Patengan, Ranca Bali, dll nyebutnya adalah dengan sebutan “Tonggoh”, yang kalau di-Indonesia-kan artinya “Atas”. Okehh kami pun naik angkot kuning tersebut. Ongkos sampai ke Kawah Putih sekitar Rp.6000 – Rp.7000,-. 

(ini dia angkot yang kita carter dari terminal cowidey/cibeureum)

Nah, terus dari gerbang Kawah Putih kita bisa naik semacam angkutan umum (ontang-anting) menuju daerah atas Kawah Putihnya, ongkosnya kalau tidak salah Rp.10.000-Rp.15.000,-. Angkutan tersebut menampung sekitar 9 penumpang-an mungkin. Saya tidak terlalu memperhatikan juga, soalnya saya ke daerah atas Kawah Putih-nya pakai angkot kuning yang kami rental, soalnya kalau menunggu ontang anting tersebut berangkatnya masih lama (harus nunggu mobil penuh dulu baru berangkat). Sedangkan pengunjung yang lain belum ada yang datang, ada siihhh tapi mereka bawa mobil pribadi ke atasnya. HTM ke Kawah Putih nya 15.000,- trus jasa lingkungannya Rp.10.000,-. Jadi Rp.25.000,-. Oh ya, kami mencarter si angkot kuning tersebut Rp.50.000/orang. Dengan hitung-hitungan, kalau kita naik angkot dengan cara ketengan bisa menghabiskan ongkos sekitar Rp.35.000,- sampai Rp.40.000,- per orang. Kita carter angkot ini Rp. 50.000/perorang ini dengan rute sebagai berikut: Terminal Ciwidey-ke Gerbang Kawah Putih-Ke Puncak Kawah Putih (6 km)-Turun lagi ke Gerbang Kawah Putih-Ke Situ Patengan (sekitar 20 menitan kurang dari Kawah Putih)-Kembali lagi ke Terminal Ciwidey. Hmm not bad lah, pikir saya. Oh ya, diangkot menuju puncak Kawah Putih itu cuma saya dan Dieni saja berdua, jadi serem juga pas ke puncak Kawah Putih pakai angkot tersebut, secara dikanan-kiri jalan sepiiii bangettt, hutan semua, belum banyak pengunjung, nanjak pula. Nah, kami pun berdo’a komat kamit. Akhirnya kami selamat sentosa juga sampai puncak. Alhamdulillah ya Alloh, supirnya baik da.

Yapp sampai di puncak Kawah Putih, bau belerang sudah mulai tercium. Untuk mencegah bau belerang itu tercium, ya pake masker, ada yang jualan kok disana, harganya Rp.5.000,-. Kalau saya sih gak pake masker-masker segala, soalnya itu bau belerang gak nyengat-nyengat banget kok baunya, apa karena sering nyium bau kentut yak, jadi gak kerasa bau nya, hahaha entahlah. Okey pemandangan disana is PERFECTOOOO, asli bagus banget, pintu masuknya kayak di luar negeri ih. Kalau ada kata yang lebih hebat dari kata “bagus banget” nah itu lah Kawah Putih. Gunung berpadu dengan kawah, hutan yang lebat, suara burung, suara binatang lain, suara belerang yang mendidih, ditambah gradasi warna langit, warna air belerang, hijaunya daun, dll menambah nuansa adeeemmmmmmmm banget. Waktu kami sampai di Kawah Putih nya, disana baru ada serombongan orang Malaysia yang sedang berwisata, foto-foto, dan kita pun saling tersenyum ketika saling berpas-pasan. 

(Pintu masuknya, keren kaan kayak di luar negeri hahaha, lebayy)

(ini didekat information center)

Ada kejadian yang memalukan, saking antusiasnya saya memandang pemandangan tersebut, sambil foto sanah foto sinih, saya tidak sadar kalau ternyata tanah yang saya pijak adalah lumpur belerang, hadeuhhhhh terperosok saya, walhasil sepatu sebelah saya kotor terkena lumpur belerang, berwarna putih. Ckckck. Akhirnya saya nyeker aja sambil foto-fotoan, kalau jalan baru dipakai (untung belum banyak orang), soalnya banyak batu. Baiklah sesi take pictures dan memandang alam sudah cukup terpuaskan, kita di puncak Kawah Putih sekitar 1,5 jam-an, dari ga banyak pengunjung sampai banyak pengunjung, padahal ada aturan disana disarankan hanya 15 menit di tempat tersebut (takut keracunan belerang, mungkin). Dari sana kami kembali lagi ke tempat angkot menunggu kami. Tadi pas saya kesini, belum ada orang yang main kecapi di Saung Kecapi, tapi sekarang ada, seorang bapak yang tidak terlalu tinggi, yang ternyata tadi seangkot sama kami, eh tau nya itu si bapak cerita kalau istrinya punya empat, malah pengen tujuh katanya, hadeuhhhh niat banget sih pak. Beres dari sana kami pun langsung ke angkot setelah sebelumnya saya membersihkan sepatu saya yang terjerembab itu di toilet dekat Information Center, huhhh untung bisa ilang lumpurnya. Saking fokusnya bersihin sepatu, sampai-sampai ketika udah beres dan mau balik ke angkot, gayung yang saya pake untuk bersih-bersih ternyata masih saya tenteng-tenteng, hadeuhhhh pikuuun pikuuunnn. 

(nah liat putih sebelah sepatu saya :)

(saung kecapi)

Okesiipp, kami pun naik angkot kembali, kemudian turun ke bawah gerbang Kawah Putih yang berjarak 6 Km panjangnya dari puncaknya. Lalu dari sana kita pun dibawa lagi ke Situ Patengan, lama jugaa perjalanan nya uy. Masuk Situ Patengan kayaknya gratis deh, tapi kata supir Rp.6000,- tau ah. Oh iya, nyampe Situ Patengan kita makan dulu lontong pical padang itu, dan pas dimakan tuh kan agak basi, tapi kita tetep keukeuh sureukeuh makan itu lontong pical, saking laparnya, dan kalau beli pasti mahal kalau di tempat wisata mah. Urusan sakit perut mah belakangan hehe. Dan sampai tulisan ini ditulis, kami biasa aja tuh, antibodi nya kuat kali yak J. Oh ya di Situ Patengan itu ditengahnya ada situ cinta atau apa ya namanya, lupa lagi, kalau kesana harus pakai perahu lagi, atau bebek-bebek an, dengan harga sewa Rp.30.000,-. Wadeuhhh mahal juga yak, dan kami milih untuk gak naik aja. kita pun keliling-keliling Situ Patengan, wuihhh banyak orang yang pacaran ternyata, kayaknya cuma Saya dan Dieni doang nih yang masih jomblo hahaha.

(nyari ilham diatas batu)

Oh ya ketika liat langit sudah berawan, dan bressss akhirnya gerimis. Kami pun segera bergegas naik angkot untuk segera pulang ke kota Bandung. Lumayan lah Situ Patengan juga, walaupun ga sebersih Kawah Putih. Kenapa Kawah Putih lebih bersih? Menurut saya sih karena tidak ada yang berdagang makanan didekat tempat wisata tersebut. Jadi aja bersih, ditambah banyak tempat sampah, dan ada petugas kebersihan yang siap sedia membersihkan tempat wisata Kawah Putih tersebut. Terbukti ketika saya naik angkot ke arah puncak Kawah Putih, ada petugas yang begitu melihat ada sampah plastik langsung dipungutnya dari motor yang sedang dikendarainya. Hmmm semoga Kawah Putih bersih terusss. Dan mari datangilah tempat wisata yang ada Ciwidey, Jawa Barat ini (Kawah Putih, Situ Patengan, Ranca Bali, Kebun teh, memetik stawberry, dll). Dan jangan lupa jangan buang sampah sembarangan, dan kalau bisa gunakan jasa guide penduduk setempat (seperti angkot tadi). Salam amateur Backpacker.

Jumat, 30 Maret 2012

Kuliner ke Bandung yuuk

Setelah hampir sebulan kurang saya tinggal di Bandung kota, (ehmm karena awalnya tinggal di jatinenjer), saya akan menceritakan beberapa pengalaman terkait jajanan di kota Bandung, tentunya yang deket-deket kostan saya dulu di daerah Dipati Ukur. Kalo yang jauh-jauh nanti aja ceritanya, soalnya harus sengaja mencuri2 waktu kuliah yg selalu pulang sore hmmm.
Okey, let’s go to start:
1.    Warung Pasta
Nah, Warung Pasta yang saya samperin ini letaknya di deket ITB di Jalan Ganesha. Tempatnya enakeun lah pokoknya buat kumpul-kumpul sama teman-teman atau buat meeting mah. Menu nya ga cuma pasta aja, beragam, ada apertizer, sphagetti, dsb (hehe ga inget, banyak sih). Namun, jangan samakan warung pasta ini dengan warung tegal yaa, karena eh karena warung pasta bukan warung biasa, yaa bisa dibilang semacam kafe lah, jadi harga makanan dan minumannya ga semurah kalo kita makan di warung tegal gitu loh. Mmm range harga nya Rp 12.500,- sampai Rp.35.000-an kalo ga salah, beda ukuran beda harga, ada yang ukuran small, medium, dan large. Makin gede ukuran makin mahal (ya iyalahhh). Namun kalo kamu kelaparan, saya ga rekomendasiin kamu pesen yang ukuran small yaa, cuz saya aja pesen yang medium, masih kerasa kurang hehehe (perut karet). Nah, waktu saya kesini saya ga pesen minum tuh, soalnya aqua aja Rp.7000,-   yang 600 ml itu. Minuman yang lain Rp.10.000-an kalo ga salah, kalo minta yang isi ulang (refill) sekitar Rp.15.000-an. Walhasil karena saya lagi pengiritan tapi pengen makan di Warung Pasta ini, jadi aja saya pesen makanannya aja, minumnya dikostan aja deh :D. Oh ya, pelayanannya juga bagus kok. Terus pas cek bon harga, saya lihat bon yang harus dibayar, harga makanan plus ppn 10%, service 5 %, hehehe, total 15%, waduhh pantesan :D :D

2.     Jajajanan Mambo
Kalo mambo ini, semacam pujasera yang letaknya di jalan Imam Bonjol dekat kampus UNPAD Dipati Ukur atau dekat R.S Borromeus. Mambo ini yaa diambil dari kata Imam Bonjol sendiri (kalo ga salah :D). Jajanan di Mambo ini pernah di liput pak Bondan di Wisata Kuliner Trans TV loohh. Namanya juga pujasera, jelas beragam makanan yang tersedia, ada Lomie, pempek, ayam bakar, ayam penyet, baso tahu, soto, clemmons, sop buah, dll, banyakk pokoknya. Harganya pun terjangkau kok, kamu bawa Rp.20.000 juga udah kenyang banget tauu, itu udah plus minum. Oh yaa, ada minum es teh yang super jumbo, harganya Cuma Rp.4000,- kalo ga salah. Disebut jumbo, ya itu tadi karena gelasnya gueedeee banget.
Makanya kalo kamu-kamu pada ke daerah Dago, jangan lupa mampir kesini yaaa.

3.    Pecel Lele Lela Dipati Ukur
Waktu itu saya bersama teman sengaja ke pecel lele Lela yang ada di Dipati Ukur (home based nya kalo ga salah yang di daerah Dago ke atasssss itu kalo ga salah). Ya intinya pengen nyobain aja gimana sih rasanya yak pecel lele lela yang katanya terkenal itu. Sapaan yang khas dari pelayan kalo ada pengunjung yang datang itu pasti sapaannya “Selamat Pagi Lela”. Mau kita datang siang, sore, malam, pasti sapaannya “selamat pagi”. Hehehe unik yaa. Okeyy, terus saya duduk, ehmm pas lihat daftar menu dan cek harga, wooww marahal juga yaaaa, kalo dirata2in sekitar Rp.15.000,- keatas harga itu pecel. Belum minumnya yaaa itu teh. Ya udah deh, saya beli ayam bakar aja, yang harganya lebih murah dari pecel lele, dan teman saya yang pesen pecel lele chrispy, jadi saya ntar minta icip2 aja deh kalo pengen lele (hehe gak modal). Okey pesanan pun datang, dan pas lihat lele chrispy yang dipesen teman itu, subhanalloh sedikit sekali, hahaha ya iya lah satu lele, dipotong-potong kemudian di goreng chrispy, jadinya menciut kecil. Jadi gak tega minta nya juga. Waduh mana itu tempe sama tahu nya kayaknya lupa disodorin, eh pas datang itu tahu sama tempenya minii dan tipiis sekali, yaa ampunn perasaan tempe dan tahu gak mahal-mahal amat deh. Pasti ini gede deh untungnya hehehe pikir saya. Terus pas udah bayar, ehh taunya pake ppn 10% juga, yaa ampuun gubrak banget deh. Okey tempat enak, pelayanan pun cukup, tapi harga dibanding makanan yang tersaji kayaknya kemahalan dehh kalo kata saya mah. Oh yaa FYI, kalo kamu sedang ulang tahun kamu bisa makan gratis di pecel lele lela ini, nah terlebih kalo kamu punya nama LELA, kamu bisa makan gratis seumur hidup di Pecel Lele Lela ini, tentunya dengan menunjukkan KTP kamu :D congratz yaa yang namanya Lela :D
 
4.    Ayam Penyet Bu RW
Nah ini nih salah satu ayam penyet terenak yang pernah saya cobain, letaknya dekat kampus UNPAD Dipati Ukur, tepatnyadi belakang  Monumen Dipati Ukur, daerah Haur Pancuh. Ini warung bukanya mulai sore. Yang bikin ketagihan itu adalah sambalnya, ada pedes manis, ada sedang manis. Saya pernah nyobain keduanya, walhasil kalo makan yang pedas-manis itu, dijamin ke kamar mandi aja hahaha, jadi saya sekarang kalo pesen yaa yang sedang-manis aja deh. Nah nasinya bisa pilih, mau nasi putih atau nasi merah. Harga nya lumayan kok gak terlalu menguras kantong. Saya sih biasanya pesan nasi putih, ayam penyet, sama tempe, totalnya Rp.12.000,- widihhh makan nikmat, kenyang, dan ketagihan :D

5.    Nasi Uduk/kuning dan Gudeg RSGM
Nasi uduk dan gudeg ini letaknya ada di belakang RSGM UNPAD (Rumah Sakit Gigi dan Mulut UNPAD) di daerah sekeloa. Awalnya saya suka beli nasi uduk di deket monumen, tapi harganya lebih mahal dibanding yang ini. Hehehe. Yang ini lumayan, perut kenyang, enak,  tapi kantong bisa agak ngirit :D. Harga nasi uduk/gudeg-nya Rp.4000,- aja kok (wahhh kalo di kampung saya sih masih Rp.2000,-). Tapi masih untung dibanding nasi uduk di deket monumen yang matok harga Rp.6000,- :D.

6.    Kantin Aryanti
Kalo kantin Aryanti letaknya persis di sebelah kanan kampus UNPAD, dekat mesjid Al-Jihad UNPAD. Harga makanan nya lumayan terjangkau ga mahal-mahal amat (kecuali kalo kamu makan nya buanyakkkk :D). Nah, karena konsepnya yang prasmanan, jadi kamu bisa milih menu sendiri, baru nanti bayar di kasir. Selain makanan yang prasmanan, kamu juga bisa pesen nasi gila, soto, ataupun baso. Okehhh selamat mencoba :D

7.    Kantin Salman ITB
Disebut kantin Salman ITB, karena letak kantin ini yang memang berada di lingkungan mesjid Salman ITB, Jalan Ganesha. Makanannya pun beragam, dari mulai yang diprasmanan-kan, kue-kue, sampai soto, kupat tahu, jus, youghurt, es kacang ijo, dsb. Baidewei perasaan saya udah lama gak makan lagi disini, ehh pas kemarin saya kesana lagi, tempatnya yaa masih kayak dulu, jalur antrian laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat) di pisahkan. Terus yang bedanya, di setiap meja sekarang dipasang himbauan bahwa piring dan gelas yang sudah dipakai harap disimpan di meja dekat wastafel, agar memudahkan petugas untuk membereskannya. Oh yaaa, harga disini juga terjangkau kantong mahasiswa kok :D Dan ingat, jangan beli makan pas adzan dikumanadangkan, karena kantin bakalan tutup dulu.

8.    Jajanan Sepanjang Pasar Gasibu
Wahhh, kalo ke pasar Gasibu jangan ditanyaaa, semua pedagang apapun, dimulai dari makanan, baju, alat rumah tangga dsb, pasti ada deh, dan tentunya pada murah-murah asal pinter-pinter nawar. Kalo bicara soal makanan buanyakkkk banget malah, karena semua pedagang yang biasanya berdagang di tempatnya masing-masing, kalo tiap hari minggu pasti pada numplek berdagang sekitar Gasibu ini. Asalakan kamu ke Bandung tiap hari minggu, pasti kamu bakal nemuin ini pasar, jangan selain hari minggu yaaa pasti ga ada hehehe. Oh yaa dari shubuh ampe siang lohh mereka dagangnya.

9.    Baso Malang Karapitan
Baso Malang Karapitan ini, induknya ada di Jl. Karapitan, tapi saya biasanya suka ke Baso Malang yang ada di sebrang BIP (Dago). Harganya yaa standar foodcourt BIP lah, agak mahal, hahaha tapi emang enak tempatnya. Oh yaa, sebelum menu yang kita pesan datang, kita bisa kok ngambil cemilan yang disediain mereka (gratis), boleh ngambil banyak juga asal dimakan yaaa jangn disisa-sisain. Oh ya, ada ppn 10% nya nih :D.

10.    Foodcourt BIP
Namanya juga foodcourt, pasti banyak pilihan makanan, foodcourt BIP ini letaknya di lantai paling atas BIP, saya sih jarang aja makan kesini, tapi kalo udah ga kuat makan ketika nunggu film 21 diputer, yaaa terpaksa juga makan disini, yaaa harganya lumayanlah standar foodcourt beserta ppn 10% itu. Wow.

11.    Lontong Sayur Padang
Nah lontong sayur ini biasanya buka dari pagi sampai siang lah maksimal, letaknya depan UNPAD Dipati Ukur, dekat Halte Bus Damri. Harganya terjangkau kalo lontongnya sayur nya pake telur Rp.7000,-kalo enggak, Rp.5000,-. Oh yaaa disini juga tersedia teh susu yang dicampur telur itu (apaa ya namanya ini, lupa), yaaaa liat telur mentah nya juga udah enek saya mah, mungkin enggak kalo kata yang suka mah. Jadi saya minumnya air putih aja deh, lumayan kok kenyangggggg.
Oh ya beda lagi, kalo kamu ke daerah Simpang Dago, ada macam-macam Lontong Sayur nya, yaitu ada yang pake pecel, wuidihhh enak dehhh yang ini, kamu pasti ketagihan. :D
 
12.    Kentang Arab
Kalo kamu ke Bandung, kamu pasti banyak nemuin kentang arab. Kentang Arab itu kentang yang dipotong panjang2 kemudian dicampur terigu dan digoreng. Wahh enak dehhh kalo dimakan pas anget-anget. Harganya kalo yang kecil Rp.3000,- kalo yang besar Rp.5000,-. Bisa dicampur rasa pedas, keju, barbeque, dll sesuai selera kamu. Kalo saya sih biasanya beli kentang arab yang dekat Indomart Dipati Ukur.

13.    Pecel Lele Dekat Halte Damri
Nah, kalo pecel lele dekat halte Damri ini, bukanya setiap sore sampe malam. Ya iyalah kalo pagi-sore ini jalan kosong buat pejalan kaki. Nah, pecel lele di sepanjang jalan ini banyak, tapi saya lebih suka yang letaknya di ujung jalan dekat monumen.  Kenapa? Yaaa karena sambelnya uenakkkkk plus lalabnya digoreng dulu, bukan mentah, hahaha enak kannn, harganya pun muraahhh. Lele, nasi, minum, tempe Rp. 7500,- Murah kaaaaannn.

Okeyy, teman-teman cukup dulu deh wisata kuliner nya, nanti saya terusin lagi mana tempat yang ciamik buat dikunjungin hehehe. See yaaaaaaa. Btw, tempat yang saya belum tulis masih buanyyakkkkk lohhhhhh   Jadi yaa, yaa yang lagi bekperkeran ke bandung, itu secuil rekomendasi tempat makan yang ada di Bandung yaaa, nanti kita explore lagi :D

Cheers
Deani


Hadiah Ulang Tahun dari Anakku

Alhamdulillah syukur tak terhingga atas nikmat-nikmat Alloh yang diberikan hingga detik ini. Alhamdulillah Alloh amanahkan kepada kami anak ...